2008 oil recap. and what is next!

February 5th, 2009

It took only 5 months for the price of oil to plummet from $150 to under $40 in the second part of the year. Meanwhile oil consumption did not even decrease 10%, so what is the real cause of this collapse you may ask?
Hedge funds. Let me explain.

During the first part of 2008, Western economies were already slowing down noticeably and hedge funds gradually pulled trillions of dollars out of the market and parked them in energy ETFs. At the time Chindia’s insatiable thirst for oil and the “decoupling” of east/west economies had many believe commodities were a “sure thing”, a sound enough tangible insurance to protect overinflated assets scavenged from made-up bubbles. On top of that, by using leverage, profits were multiplied as oil went up, not a bad deal in a recession.
But when the banking industry collapsed, hedge funds had to raise cash by “deleveraging”, liquidating their leveraged energy ETF positions sending the price of oil tumbling. Anecdotally shorting of banking ETFs was suspended by the US Securities Commission during that time but not shorting of energy prices, and the leverage mania soon found an escape route in utrashort oil ETFs, compounding the speed of this downward spiral. By December 2008 the oil price had collapsed 75% and frankly, who would complain about cheap gas these days?
As we enter 2009 the oil landscape has reversed dramatically from a year ago. The price of oil is lower than production costs and new exploration projects are being cancelled. China flush with cash is currently buying all the oil it can get its hands on to pump into its strategic reserves. Once arrogant OPEC countries are willing to sell oil at any price to fund government programs and prevent political instability.
One constant however is the depletion of major oil fields, worse than predicted at 9.1% year over year as we close 2008. It’s a matter of when not if the economy recovers and when it does, expect a strong bounce back in the price of oil.

ndoz News

Kenaikan Tarif Pasang Baru

June 9th, 2009

Negara telah menyalahi Keputusan Presiden Tahun 2003 tentang Tarif Dasar Listrik dan Undang-undang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2009 atas langkah PLN yang menaikkan tarif pemasangan listrik bagi pelanggan baru.

“Untuk biaya penyambungan pelanggan baru, sudah ada aturannya, yaitu Peraturan Menteri Energi tahun 2001 yang sampai saat ini masih berlaku,” kata Direktur Jenderal Listrik dan Pemanfaatan Energi J Purwono melalui sambungan telepon, Senin 8 Juni 2009.

Pernyataan ini berbeda dengan Kementerian Negara Badan Usaha Milik Negara yang membolehkan PLN menaikkan tarif pasang baru pagi pelanggannya. Pasalnya, kenaikan tarif ini merupakan langkah aksi korporasi yang tak perlu disetujui pemegang saham, yaitu pemerintah.

Kondisi keuangan PLN saat ini tidak memungkinkan menanggung biaya material untuk pemasangan baru. Dengan demikian, biaya-biaya pemasangan baru yang berkisar Rp 550 ribu - Rp 600 ribu bagi pelanggan 450 Voltampere (Va) akan dikenakan pada konsumen. Selama ini, dalam Keputusan Presiden Tahun 2001 tarif listrik yang dikenakan kepada pelanggan sudah termasuk biaya dari hulu hingga hilir.

ndoz Etc ,

Minyak antara US$ 65-70

June 8th, 2009

ALJIR, KOMPAS.com — Menteri Perminyakan Aljazair, Chakib Khell, mengatakan, harga minyak mentah akan tetap berada di kisaran 65-70 dollar AS per barrel sampai akhir 2009, Sabtu (6/6) waktu setempat, seperti dilaporkan kantor berita APS.

“Pasar akan bertahan direntang antara 65 sampai 70 dollar sampai akhir 2009 karena konsumsi bahan bakar (AS) akan naik di musim panas, namun sangat sulit untuk memperkirakan pasar,” kata Khelil di Aljir.

“Harga minyak akan sangat mungkin melewati 70 dollar per barrel mulai 2010 karena pulihnya ekonomi dunia,” dia menambahkan.

Namun pasar masih tetap sensitif terhadap faktor lain, seperti nilai tukar dollar yang anjlok. Setiap kemunduran perekonomian dunia juga dapat memengaruhi harga minyak mentah, dia mengingatkan.

Pada Jumat, harga minyak kembali turun setelah dalam jangka pendek terdorong di atas 70 dollar per barrel di New York untuk pertama kalinya selama tujuh bulan, sebelum pasar berada di belakang pulihnya dollar.

Minyak mentah jenis light sweet menyentuh 70,32 dollar di New York, Jumat, level tertinggi sejak 4 November 2008.

ndoz Etc

Kenaikan Tarif Pasang Baru Departemen Energi Salahkan PLN PLN telah menyalahi Keputusan Presiden tahun 2003 tentang Tarif Dasar Listrik.

June 8th, 2009

Negara telah menyalahi Keputusan Presiden Tahun 2003 tentang Tarif Dasar Listrik dan Undang-undang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2009 atas langkah PLN yang menaikkan tarif pemasangan listrik bagi pelanggan baru.

“Untuk biaya penyambungan pelanggan baru, sudah ada aturannya, yaitu Peraturan Menteri Energi tahun 2001 yang sampai saat ini masih berlaku,” kata Direktur Jenderal Listrik dan Pemanfaatan Energi J Purwono melalui sambungan telepon, Senin 8 Juni 2009.

Pernyataan ini berbeda dengan Kementerian Negara Badan Usaha Milik Negara yang membolehkan PLN menaikkan tarif pasang baru pagi pelanggannya. Pasalnya, kenaikan tarif ini merupakan langkah aksi korporasi yang tak perlu disetujui pemegang saham, yaitu pemerintah.

Kondisi keuangan PLN saat ini tidak memungkinkan menanggung biaya material untuk pemasangan baru. Dengan demikian, biaya-biaya pemasangan baru yang berkisar Rp 550 ribu - Rp 600 ribu bagi pelanggan 450 Voltampere (Va) akan dikenakan pada konsumen. Selama ini, dalam Keputusan Presiden Tahun 2001 tarif listrik yang dikenakan kepada pelanggan sudah termasuk biaya dari hulu hingga hilir.

ndoz Etc

Pasokan bahan baku minim, harga kemasan plastik melonjak

May 6th, 2009

Harga kemasan plastik berupa plastik lembaran pembungkus dan plastik film (biaxially-oriented polypropylene/BOPP) di pasar lokal melonjak 28,3% akibat minimnya pasokan bahan baku plastik berupa polipropilena (PP).

Asosiasi Industri Kemasan Fleksibel Indonesia (Rotokemas) menyatakan harga plastik lembaran dan BOPP film pada Januari masih berkisar US$1,52 per kg, tetapi harga tersebut melonjak pada April menjadi US$1,95 per kg.

Dalam rantai produksi di sektor petrokimia, PP merupakan salah satu komponen vital yang digunakan sebagai bahan baku produk kemasan plastik.
Kalangan perusahaan pengolahan plastik mengaku masih kekurangan pasokan PP meskipun beberapa perusahaan plastik hulu (pemasok) mengklaim sudah beroperasi normal. “Ketatnya pasokan PP menyebabkan harga BOPP film melonjak hampir 30%,” kata Ketua Umum Rotokemas Felix S. Hamidjaja kemarin.

Menurut data statistik Rotokemas, kalangan produsen kemasan plastik sepanjang Januari-Maret 2009 mengalami kekurangan pasokan PP sebanyak 60.000-70.000 ton dari kondisi ideal sekitar 152.500 ton.

Keadaan ini menyebabkan kinerja produksi terganggu yang diindikasikan dengan kemerosotan tingkat utilisasi (pemanfaatan kapasitas terpasang) sebesar 30%-40%. Secara keseluruhan defisit pasokan PP di industri plastik hilir pada kuartal I/2009 diperkirakan mencapai 82.500 ton.

Kurangnya pasokan PP dari produsen lokal, terangnya, menyebabkan industri plastik hilir mencari sumber dari kawasan regional. Terlebih harga PP di dalam negeri sangat tidak kompetitif atau lebih mahal sekitar US$100 per ton.

Dia mencontohkan PT Tri Polyta Tbk, produsen PP nasional, saat ini menjual PP dengan harga sekitar US$1.300 per ton atau lebih mahal dibandingkan dengan harga di regional Asean yang sebesar US$1.200 per ton.

Pada saat yang sama, Tri Polyta menjalani masa perawatan (overhaul) sehingga tidak dapat melayani order permintaan secara penuh. Kondisi ini menyebabkan komoditas PP menjadi barang langka.

Menurut catatan Bisnis, sejauh ini hanya PT Polytama Propindo yang mulai beroperasi secara normal-sejak pekan terakhir Februari-setelah mendapatkan pasokan propilena secara cukup dari Kilang Balongan milik PT Pertamina.

Menurut Felix, meskipun harga BOPP melonjak tajam, konsumsi bahan baku tersebut tetap tumbuh 5% pada April 2009. “Kemasan plastik fleksibel masih banyak dibutuhkan terutama oleh industri makanan dan minuman. Momentum pemilu terbukti telah mendongkrak permintaan pasar,” ujarnya.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Plastik dan Olefin (INAplas) Budi Susanto Sadiman menjelaskan kemampuan pasok bahan plastik untuk industri plastik hilir mulai normal seiring dengan kembali beroperasinya pabrik Polytama.

Read more…

ndoz News

PLN Akui Kurang Maksimal Penuhi Kebutuhan Listrik NUSA DUA

May 6th, 2009

Proyek infrastruktur di sektor listrik masih minim investasi. Padahal, tiap tahun kebutuhan akan listrik terus bertambah.

Hal tersebut diakui Direktur Utama PT PLN Persero Fahmi Mochtar, di sela makan malam bersama, di Nusa Dua Bali, Senin (4/5) malam. “Listrik sekarang masih disubsidi karena masih minim investasi,” kata Fahmi.

Karena kurangnya investasi, Fahmi mengakui industri listrik masih kurang maksimal untuk memenuhi kebutuhan listrik di Indonesia .

Selain itu, dari tahun 2003 hingga sekarang masih bergantung pada subsidi karena input cost mengalami kenaikan. “BBM naik berkali-kali, tetapi harga jual kita tetap. Input cost juga lebih tinggi dibandingkan harga jual. Input cost sekarang sebesar Rp 1.317 per kwh harga jual Rp 630 per kwh,” tuturnya.
Karena itu, upaya pemerintah untuk menggalakkan percepatan proyek 10.000 MW dinilai membantu pelayanan listrik ke berbagai daerah di Indonesia. “Diharapkan tahun ini selesai Labuan, Indramayu, dan Lebak. Ini akan membantu pertumbuhan ekonomi khususnya di Pulau Jawa,” tuturnya.

ndoz News